ZMedia Purwodadi

Musim Pemilu, Musim Ijazah Bodong: Gimana Caranya Kertas Selembar Bisa Bikin Karir Pejabat Langsung Tamat?

Table of Contents

 

musim pemilu

Kalau di Indonesia, musim pemilu itu biasanya identik sama tiga hal: baliho yang nongol di mana-mana, janji manis kampanye, dan... panen kasus ijazah bodong! Yap, percaya atau nggak, tiap kali hajatan demokrasi lima tahunan ini digelar, pasti aja ada drama calon pejabat atau wakil rakyat yang ketahuan "nge-prank" konstituennya pakai selembar kertas palsu.

Kertas Sakti Syarat Wajib "Nyaleg"

Buat bisa duduk manis di kursi empuk DPRD, Bupati, sampai jabatan yang lebih tinggi, ada satu syarat administratif mutlak yang nggak bisa ditawar: batas pendidikan minimal. Bukti fisiknya tentu saja ijazah kelulusan. Kertas berhologram ini jadi tiket masuk utama alias arsip dasar yang wajib disetor ke KPU sebelum mereka bisa jualan visi-misi ke rakyat.

Masalahnya, ambisi buat berkuasa kadang jauh lebih besar dari kemauan buat duduk di bangku sekolah. Alhasil, jalan pintas pun diambil. Modusnya macam-macam dan kadang bikin ngakak saking nekatnya. Ada yang beli ijazah dari "kampus gaib" yang gedungnya aja nggak ada, ada yang jago Photoshop numpang nama di ijazah orang lain, sampai modus klasik: ngaku ijazah aslinya "hilang kena banjir atau kebakaran", lalu bikin Surat Keterangan Pengganti Ijazah pakai data karangan!

Saat Buku Induk Sekolah Berbicara

Sepintar-pintarnya sindikat memalsukan jenis kertas, stempel, sampai tanda tangan kepala sekolah, mereka sering lupa satu hukum alam kearsipan: arsip itu berjejaring. Ijazah fisik di tangan mungkin bisa dipalsukan sampai mirip 99%, tapi gimana dengan data di instansi penerbitnya?

Di sinilah karir cemerlang seorang politisi bisa tamat dalam semalam. Saat lawan politik atau masyarakat mulai curiga, cara ngeceknya gampang banget. Mereka tinggal buka database Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) atau datang langsung ke sekolah asal buat membongkar Buku Induk Siswa alias buku babon tempat semua data murid dicatat manual.

Jeng-jeng! Kalau namanya nggak pernah tercatat di buku tebal berdebu itu, atau Nomor Induk Siswa (NIS)-nya ternyata milik orang lain, kelar sudah urusannya.

Jatuh Tertimpa Dokumen

Efek dominonya ngeri banget. Nggak cuma didiskualifikasi dari pencalonan, pejabat yang udah terlanjur dilantik pun bisa langsung dicopot dengan tidak hormat, diarak cibiran satu negara, dan ujung-ujungnya disuruh pakai rompi oranye karena tindak pidana pemalsuan dokumen. Semua uang miliaran dan energi yang dikeluarin buat kampanye hangus seketika.

Drama musiman ijazah bodong ini ngasih kita pelajaran penting: sehebat apa pun manuver politik dan tebalnya dompet seseorang, nasib karirnya tetap bisa di-KO oleh selembar arsip pendidikan dan buku catatan kusam di ruang tata usaha sekolah!