ZMedia Purwodadi

Nyaris Berakhir di Tong Sampah! Ini Rahasia Naskah Asli Proklamasi yang Diselamatkan Tangan Wartawan

Table of Contents
nyaris hilang di tong sampah

Pernah bayangin nggak, gimana jadinya kalau bukti paling penting berdirinya negara kita berakhir di tempat sampah? Yap, percaya atau nggak, naskah tulisan tangan asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hampir aja bernasib tragis!

Mundur ke dini hari tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Maeda. Suasananya saat itu tegang dan serba buru-buru. Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Subardjo lagi putar otak merumuskan kalimat sakti kemerdekaan. Setelah naskah draf (yang sering disebut teks klad) selesai ditulis tangan oleh Bung Karno, naskah itu diserahkan ke Sayuti Melik buat diketik pakai mesin tik biar lebih rapi dan resmi.

Detik-Detik Menegangkan di Dekat Tong Sampah

Nah, di sinilah dramanya dimulai. Setelah Sayuti Melik selesai mengetik teks proklamasi (teks otentik), kertas coret-coretan tulisan tangan Bung Karno itu ditinggalin gitu aja di atas meja. Bahkan, menurut sejarah, kertas bersejarah itu sempat diremas dan masuk ke keranjang sampah karena dianggap udah nggak kepakai! Orang-orang saat itu terlalu fokus sama teks ketikan yang bakal dibacakan pagi harinya.

Insting Jurnalis yang Menyelamatkan Sejarah

Untungnya, di ruangan itu ada seorang wartawan muda yang instingnya tajam banget. Namanya Burhanuddin Mohammad Diah, atau yang lebih kita kenal sebagai B.M. Diah. Sebagai seorang jurnalis, dia sadar betul kalau kertas lecek itu bukan sembarang sampah, melainkan dokumen super penting yang nilainya nggak terhingga.

Diam-diam, B.M. Diah memungut kertas yang nyaris terbuang itu. Dia merapikan lipatannya, lalu menyempilkannya ke dalam buku catatannya supaya aman.

Disimpan Rapat Selama 47 Tahun!

Hebatnya lagi, B.M. Diah menyimpan "harta karun" ini rapat-rapat selama hampir setengah abad! Naskah tulisan tangan itu dia bawa ke mana-mana, melewati masa revolusi yang genting, sampai saat dia bertugas menjadi duta besar di berbagai negara. Kertas lecek itu tetap aman bersamanya.

Baru pada tahun 1992—tepatnya 47 tahun kemudian—B.M. Diah memutuskan untuk menyerahkan naskah asli tersebut kepada Presiden Soeharto. Naskah itu pun akhirnya dirawat dengan teknologi tinggi dan disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sampai sekarang.

Coba deh pikir, kalau saat itu insting B.M. Diah nggak jalan dan membiarkan kertas itu disapu petugas kebersihan, mungkin hari ini kita nggak akan pernah bisa melihat bukti otentik coretan tangan Bapak Bangsa kita.

Dari kisah ini kita belajar satu hal: arsip itu bukan sekadar tumpukan kertas usang, tapi memori tak ternilai yang menyelamatkan identitas sebuah bangsa!